Home » Archive

Articles in the Bengkel Sastra Category

Bengkel Sastra »

[3 Okt 2010 | No Comment | 498 views]

adalah soal ketajaman “mata imajinasi” seseorang dalam melihat realitas hidup. Ketajaman itu bisa diasah. Tergantung mau atau tidak mengasahnya. Nah, bagi seniman (tentu termasuk juga sastrawan), imajinasinya harus terus terasah. Sebab, dunia seni/sastra adalah dunia yang bergelut (bahkan sangat identik) dengan dunia imajinasi itu.
Maka peran imajinasi dalam dunia sastra khususnya, menjadi sangat penting. Sebab imajinasi adalah salah satu perangkat utama dalam menulis, selain pengetahuan dan wawasan. Realitas yang kita lihat dalam hidup keseharian kita, adalah dunia fakta. Ia bisa dilihat secara langsung oleh mata-fisik kita. Namun, seorang pengarang, biasanya tak …

Bengkel Sastra »

[19 Sep 2010 | No Comment | 319 views]

KENAPA sebagian besar orang sepertinya tak suka dengan makhluk yang namanya Puisi? Nyatanya, buku puisi di rak-rak toko buku kita hampir tak tersentuh oleh para pembeli. Hadirnya rubrik puisi, yang cukup banyak terserak di berbagai media massa (koran) di tiap hari minggu, juga sesungguhnya tak bisa menandakan bahwa para pembaca kita suka pada puisi. Belum lagi, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, mereka yang suka puisi bisa dihitung dengan jari. Kenapa demikian?
Tentu, ada banyak sebab. Salah satu sebab utama adalah soal apresiasi. Sejak lama diakui, bahwa apresiasi ma-syarakat kita terhadap karya sastra …

Bengkel Sastra »

[23 Mei 2010 | 2 Comments | 669 views]

MUNGKIN, kebingungan semacam ini memang banyak dirasakan oleh penulis, baik itu pemula atau juga penulis “lama.” Kenapa begitu? Karena ide atau gagasan yang datang dalam kepala kita tidak berbentuk, tidak memilih sendiri bahwa dia mau ditulis dalam bentuk puisi atau cerpen. Bagi mereka yang memang lebih suka dan mahir nulis puisi, tentu langsung merangkai kata-kata. Begitu pula bagi mereka yang lebih suka nulis cerpen, langsung mengungkai narasi-narasi. Tapi, bagi mereka yang menyukai keduanya, akan didera kebingungan.
Saya kira, jangan terlalu lama bingungnya. Langsung saja menentukan pilihan, nulis puisi atau cerpen. Caranya, …

Bengkel Sastra »

[9 Mei 2010 | No Comment | 590 views]

SAYA sangat percaya, jika ada kabar tentang nilai paling rendah Ujian Nasional tahun ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Kenapa? Karena pelajaran Bahasa Indonesia memang telah sejak lama menjadi “anak tiri” di antara mata pelajaran yang lain. Saya kira, juga sama nasibnya dengan pelajaran kesenian di sekolah.
Anak tiri? Ya. Saya tidak tahu persis kenapa bisa begitu. Meskipun kita semua mungkin sepakat, bahwa salah satu sebabnya adalah soal paradigma masyarakat. Satu pemahaman yang menganggap bahwa pelajaran Bahasa Indonesia itu tidak terlalu penting jika dibanding dengan pelajaran lain. Bahasa Indonesia ‘kan kita pakai …

Bengkel Sastra »

[18 Apr 2010 | No Comment | 724 views]

ADIK-adik, salah satu trik yang dapat membuat karya kita menjadi lebih memikat dan menarik untuk dibaca adalah dengan memainkan sudut pandang (point of view). Apa itu sudut pandang? Bagaimana pula cara memainkannya?
Setiap orang sebenarnya memiliki sudut pandang yang berbeda-beda ketika menceritakan sebuah peristiwa.Misalnya, peristiwa gempa di Sumatera Barat beberapa waktu lalu, diwartakan oleh media massa dengan berbagai sudut pandang. Ada yang berkisah tentang nasib korban, ada yang mengurai tentang peran pemerintah setempat dalam menanggulangi bencana, ada pula yang bercerita tentang kedahsyatan gempa itu lewat gambaran bangunan yang ambruk, dan banyak …

Bengkel Sastra »

[4 Apr 2010 | No Comment | 508 views]

ADIK-adik, setelah 4 trik kita bahas pada dua edisi yang lalu, yakni
(1) Pelajari Kecenderungan Media yang Dituju, (2) Catat Alamat Media yang Benar, (3) Persiapkan Karya yang akan Dikirim, dan (4) Menyapa Redaktur, kini kita lanjutkan trik berikutnya.
5. Sertakan Biodata Singkat.
Selain karya yang “bagus” dan “layak” muat, pertimbangan lain yang juga biasanya turut memberi bahan pertimbangan bagi redaktur adalah latar belakang dan sejumlah prestasi si penulis. Meskipun pengaruh dari pertimbangan ini tidak terlalu besar dibanding kualitas karya, setidaknya dengan menyertakan biodata dapat membantu redaktur mengenal diri penulis lebih jauh, terutama …

Bengkel Sastra »

[28 Mar 2010 | One Comment | 465 views]

MINGGU lalu, kita sudah membahas dua trik menembus media massa:
(1) Pelajari Media yang Dituju, dan
(2) Catat Alamat Media dengan benar. Nah, berikut kita akan bahas trik-trik selanjutnya.
3. Persiapkan Karya yang akan Dikirim.
Adik-adik, sebaiknya sebelum kita memutuskan untuk mengirimkan karya ke media, persiapkanlah karya kita itu dengan sebaik-baiknya. Trik ketiga ini, setidaknya terkait pada dua hal: teknis dan non-teknis. Yang termasuk dalam teknis, misalnya, karya yang akan dikirim harus sesuai dengan ‘’ukuran’’ standar media tersebut. Biasanya terkait dengan berapa halaman (jumlah karakter) dan ukuran spasi. Karya yang tidak sesuai dengan ukuran …

Bengkel Sastra »

[14 Mar 2010 | One Comment | 932 views]

PERNAHKAH adik-adik mendengar istilah “sastra serius” dan “sastra populer”? Saya yakin, yang  menyukai dunia sastra, pasti pernah mendengarnya, meski mungkin tak terlalu menggubrisnya. Ya, barangkali saja, karena kita tak mau pusing-pusing dengan berbagai istilah sastra, tapi yang terpenting bagaimana bisa terus menulis dan berkarya.
Begitukah?Tapi, tunggu dulu. Begitu kita masuk ke rimba raya sastra yang demikian luas ini, maka konsekuensinya kita juga harus bersiap untuk mau masuk dalam berbagai istilah yang akan menyertainya. Dengan begitu, kelak kita dapat tahu, di mana sesungguhnya posisi karya kita dalam konstelasi sastra (di) Indonesia ini.Dua …

Bengkel Sastra »

[7 Mar 2010 | No Comment | 944 views]

SEJAK lama, banyak orang meyakini bahwa karya sastra mengandung nilai-nilai moral. Ada amanat yang hendak disuguhkan kepada pembaca. Pendapat ini, secara tidak langsung, hendak menempatkan karya sastra dalam posisi yang tinggi. Dan tentu, adik-adik juga pernah mendengar, bahwa sastra juga kerap dideretkan dengan filsafat dan agama. Sebab ketiganya, sama-sama berbicara tentang manusia (meski dengan caranya masing-masing).
Akan tetapi, setidaknya ada dua problem yang kemudian muncul. Pertama, dengan pendapat seperti ini, karya sastra seolah dituntut untuk menyampaikan yang “baik-baik” saja menurut ukuran moral. Sehingga, banyak juga karya sastra yang lahir normatif, kaku, …

Bengkel Sastra »

[28 Feb 2010 | No Comment | 717 views]

“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.”
(Barbara Tuchman).
BERAPA banyak buku yang adik-adik baca dalam sepekan? Berapa banyak koleksi buku yang bertengger di rak-rak buku kita? Seberapa pentingkah sebuah buku bagi kita dibanding dengan barang yang lain? Pernahkah kita merasa sangat kehilangan, karena sebuah buku kita dipinjam teman dan tak kunjung di-kembalikan?
Hmm, itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkhusus bagi adik-adik yang bercita-cita menjadi penulis. Ingat, sebaiknya tidak bercita-cita jadi penulis jika minat membaca kita rendah. Minat terhadap buku rendah. Sebab, …

Bengkel Sastra »

[21 Feb 2010 | No Comment | 966 views]

Chairil Anwar bilang, sastra itu sebuah dunia. Saya tambahkan, sebuah dunia yang penuh dengan kemungkinan. Sebagai sebuah dunia, maka ia memiliki penghuni di dalamnya, yakni para tokoh cerita. Supaya para penghuni tersebut bisa hidup, maka ia memerlukan tempat, sebuah latar di mana ia bisa menjalankan konflik-konflik  Jadi, selain unsur tokoh dan plot, unsur latar (setting) menjadi tak kalah penting dalam karya fiksi.
Adik-adik, setidaknya ada tiga unsur pokok yang dapat membedakan latar: Latar Tempat, Latar Waktu, dan Latar Sosial. Latar Tempat, jelas terkait dengan tempat-tempat tertentu yang dipergunakan oleh tokoh cerita.
Sebagaimana …

Bengkel Sastra »

[14 Feb 2010 | No Comment | 551 views]

SETIAP orang pasti pernah memiliki “pengalaman puitik.” Sebab, setiap orang pasti pernah melalui berbagai “perjalanan bathin” dalam kehidupan sehari-hari. Ya, dalam proses “perjalanan bathin” itulah, apa yang disebut “pengalaman puitik” itu terlahir. Namun, rupanya, tidak setiap orang yang menyadari bahwa dalam dirinya, dalam bathinnya, telah terpatri berbagai “pengalaman puitik” itu. Tapi, bagi para penulis fiksi (terutama penulis puisi/penyair), “pengalaman puitik” ini jadi kebutuhan primer mereka.
Yang jadi soal kemudian adalah, bagaimana cara kita mengetahui bahwa kita telah menemukan “pengalaman puitik” itu? Sebetulnya, tidak sulit mendeteksinya. Kuncinya, mau atau tidak kita membuka …